Oleh : T.H. Hari Sucahyo
Sebagian berupa teori sosiologis, sebagian lagi berupa kecaman politik, analisis Helmut Schoeck tentang rasa iri hati dalam masyarakat menurut saya tetap menarik justru karena ia menyentuh sesuatu yang sering kali tidak nyaman untuk kita akui. Politik modern terlalu sering berbicara tentang ketimpangan, keadilan, dan distribusi kekayaan seolah-olah manusia selalu bertindak berdasarkan pertimbangan rasional tentang apa yang adil dan tidak adil. Padahal manusia juga digerakkan oleh emosi yang jauh lebih sederhana, lebih tua, dan kadang jauh lebih gelap: rasa iri.
Schoeck melihat iri hati bukan sekadar perasaan pribadi yang muncul ketika seseorang melihat orang lain lebih berhasil. Ia melihatnya sebagai kekuatan sosial dan politik yang dapat membentuk perilaku masyarakat. Dalam kadar tertentu, rasa iri mungkin merupakan bagian yang tidak terhindarkan dari kehidupan manusia. Kita membandingkan diri dengan orang lain, mengukur keberhasilan kita melalui keberhasilan mereka, lalu merasa tidak nyaman ketika jaraknya terlalu jauh.
Masalahnya muncul ketika rasa tidak nyaman itu berubah menjadi dorongan untuk menjatuhkan orang lain, bukan memperbaiki keadaan diri sendiri. Di sinilah argumen Schoeck menjadi provokatif. Ia berpendapat bahwa masyarakat yang berfungsi dengan baik bukanlah masyarakat yang berhasil menghapus rasa iri, melainkan masyarakat yang memiliki mekanisme untuk membatasinya.
Ada semacam kesepakatan sosial bahwa keberhasilan seseorang tidak otomatis merupakan penghinaan terhadap orang lain. Orang boleh menjadi lebih kaya, lebih terampil, lebih berprestasi, atau lebih beruntung tanpa harus terus-menerus meminta maaf atas keberhasilannya. Gagasan seperti ini terdengar sederhana, tetapi implikasinya cukup besar. Sebab sebuah masyarakat tidak mungkin berkembang jika setiap keberhasilan dipandang sebagai ancaman.
Seorang pengusaha yang membangun perusahaan, petani yang meningkatkan hasil panennya, pekerja yang mendapatkan promosi, atau anak muda yang berhasil memperoleh pendidikan lebih tinggi seharusnya menjadi bagian dari energi produktif masyarakat. Tetapi jika keberhasilan mereka justru mengundang kecurigaan, cibiran, bahkan tekanan sosial untuk “kembali ke level yang sama”, masyarakat akan belajar satu hal yang sangat buruk: jangan terlalu menonjol.
Fenomena seperti itu sebenarnya tidak asing. Dalam banyak lingkungan sosial, orang lebih mudah menerima seseorang yang gagal bersama-sama daripada seseorang yang berhasil sendirian. Kita sering mendengar kalimat seperti, “Jangan merasa paling hebat,” “Jangan sok kaya,” atau “Jangan lupa diri.” Nasihat semacam itu kadang memang diperlukan agar seseorang tidak menjadi sombong.
Tetapi ada perbedaan tipis antara kerendahan hati dan hukuman sosial terhadap keberhasilan. Ketika perbedaan itu tidak lagi dikenali, kerendahan hati berubah menjadi budaya mediokritas. Yang menarik dari Schoeck adalah pengamatannya bahwa rasa iri tidak selalu bekerja sebagaimana yang dibayangkan oleh politik berbasis kelas. Jika kita mengikuti logika politik tertentu, kita mungkin mengira bahwa seseorang yang miskin secara otomatis akan paling membenci orang yang sangat kaya. Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Manusia sering kali justru lebih iri terhadap orang yang sedikit lebih dekat dan sedikit lebih berhasil daripada dirinya. Kita tidak selalu merasa terancam oleh miliarder yang hidup di kota besar dan tidak pernah kita temui. Tetapi tetangga yang rumahnya sedikit lebih bagus, teman sekolah yang kariernya lebih cepat, saudara yang membeli mobil baru, atau rekan kerja yang memperoleh jabatan yang sebenarnya kita inginkan, bisa menimbulkan perasaan yang jauh lebih kuat. Jarak sosial ternyata sering lebih menentukan daripada jarak ekonomi.
Karena itu, politik yang mencoba memobilisasi rasa iri menghadapi paradoks. Ia mungkin mengangkat slogan tentang ketidakadilan struktural, tetapi emosi yang bergerak di tingkat akar rumput sering kali jauh lebih personal. Kemarahan tidak selalu diarahkan kepada mereka yang berada di puncak piramida. Ia bisa justru diarahkan kepada orang yang berada hanya satu atau dua anak tangga di atas kita.
Sejarah memberikan banyak contoh tentang bagaimana mekanisme ini dapat bekerja secara mengerikan. Revolusi Kebudayaan di Tiongkok, misalnya, menunjukkan bahwa mobilisasi politik tidak selalu menghasilkan konflik sederhana antara rakyat miskin dan elite penguasa. Dalam banyak kasus, kebencian justru diarahkan kepada mereka yang berada sangat dekat secara sosial: guru, pemilik tanah kecil, intelektual, pejabat lokal, atau orang-orang yang dianggap sedikit lebih beruntung dibandingkan tetangganya.
Mereka menjadi sasaran bukan semata-mata karena memiliki kekuasaan besar, tetapi karena perbedaan kecil di antara mereka terlihat nyata dan mudah dibenci. Di titik ini, kritik Schoeck terhadap politik yang dibangun di atas rasa iri menjadi relevan. Politik semacam itu mungkin menjanjikan kesetaraan, tetapi kesetaraan yang ditawarkan dapat berubah menjadi keseragaman.
Alih-alih bertanya bagaimana orang yang tertinggal bisa naik, masyarakat didorong untuk bertanya mengapa orang lain boleh berada lebih tinggi. Perbedaan pertanyaan itu sangat penting. Pertanyaan pertama menghasilkan kebijakan yang mendorong mobilitas: pendidikan yang lebih baik, kesempatan usaha, perlindungan hukum, akses terhadap modal, dan institusi yang memungkinkan seseorang memperbaiki kehidupannya.
Pertanyaan kedua cenderung menghasilkan politik hukuman: pajak yang semata-mata dimaksudkan untuk menghukum, pembatasan terhadap keberhasilan, atau kampanye moral yang membuat orang merasa bersalah karena memiliki lebih banyak. Namun, kritik terhadap politik iri hati tidak berarti kita harus menutup mata terhadap ketimpangan. Di sinilah Schoeck, atau pembacaan terhadap Schoeck, perlu ditempatkan secara hati-hati.
Tidak semua kritik terhadap orang kaya berasal dari rasa iri. Ada ketimpangan yang memang tidak adil. Ada kekayaan yang diperoleh melalui korupsi, monopoli, kolusi, eksploitasi, atau kedekatan dengan kekuasaan. Dalam situasi semacam itu, kemarahan publik bukanlah iri hati; ia bisa merupakan tuntutan yang sah terhadap keadilan. Masalahnya adalah ketika semua bentuk ketimpangan diperlakukan sebagai bukti ketidakadilan, sementara semua keberhasilan dicurigai sebagai hasil dari permainan yang curang.
Jika logika ini dibiarkan, masyarakat akan kehilangan kemampuan membedakan antara orang yang menjadi kaya karena menciptakan nilai dan orang yang menjadi kaya karena menyalahgunakan kekuasaan. Keduanya kemudian ditempatkan dalam kategori yang sama: orang yang harus dicurigai. Lebih jauh lagi, politik yang terlalu mengandalkan rasa iri dapat menghancurkan kepercayaan sosial.
Orang mulai menyembunyikan keberhasilan. Mereka enggan memperlihatkan hasil kerja kerasnya. Mereka takut dianggap pamer, takut dicurigai, atau bahkan takut keberhasilannya mengundang permusuhan. Dalam jangka panjang, ini bukan hanya persoalan psikologis. Ia menjadi persoalan ekonomi dan politik. Masyarakat yang sehat membutuhkan ruang bagi ambisi individual.
Tidak semua orang harus menjadi kaya, tetapi setiap orang harus merasa bahwa menjadi lebih berhasil daripada keadaan sebelumnya adalah sesuatu yang sah. Anak seorang buruh harus boleh bercita-cita menjadi pengusaha. Pedagang kecil harus boleh bermimpi memiliki toko yang lebih besar. Pegawai biasa harus boleh ingin menjadi direktur. Orang desa harus boleh pindah ke kota dan mengubah kehidupannya.
Keberhasilan semacam itu seharusnya tidak dipandang sebagai pengkhianatan terhadap kelompok asalnya. Pada saat yang sama, masyarakat juga membutuhkan batas moral terhadap keserakahan. Kebebasan untuk berhasil tidak boleh berubah menjadi kebebasan untuk merampok. Pasar tidak boleh menjadi pembenaran untuk korupsi. Kekayaan tidak boleh membeli hukum. Di sinilah politik yang matang seharusnya berdiri: bukan mengobarkan iri hati kepada mereka yang berhasil, tetapi memastikan bahwa kompetisi berlangsung dalam aturan yang adil.
Sayangnya, politik modern sering menemukan bahwa rasa iri jauh lebih mudah dijual daripada gagasan tentang mobilitas sosial. Lebih mudah mengatakan, “Mereka memiliki terlalu banyak,” daripada menjelaskan bagaimana menciptakan kesempatan agar lebih banyak orang dapat memiliki lebih banyak. Lebih mudah mencari kambing hitam daripada memperbaiki sekolah, birokrasi, sistem hukum, pasar tenaga kerja, dan institusi ekonomi yang rumit.
Karena itu, mungkin pelajaran terbesar dari Schoeck bukanlah bahwa orang miskin harus berhenti iri atau orang kaya harus berhenti dikritik. Pelajarannya adalah bahwa kita perlu berhati-hati terhadap politik yang menjadikan rasa iri sebagai bahan bakar utamanya. Politik semacam itu selalu membutuhkan seseorang untuk dibenci. Hari ini sasarannya orang kaya. Besok pengusaha. Lusa kelas menengah. Setelah itu mungkin tetangga sendiri yang dianggap terlalu sukses.
Persoalannya bukan apakah manusia bisa hidup tanpa rasa iri. Kemungkinan besar tidak. Persoalannya adalah apakah institusi dan kebudayaan kita mampu memastikan bahwa iri hati tidak menjadi prinsip penyelenggaraan masyarakat. Kita membutuhkan masyarakat yang dapat mengatakan kepada seseorang: Anda boleh berhasil, tetapi jangan menyalahgunakan kekuasaan; Anda boleh kaya, tetapi jangan membeli hukum; Anda boleh berbeda, tetapi jangan merendahkan orang lain.
Sebaliknya, kepada mereka yang belum berhasil, masyarakat harus mengatakan: keberhasilan orang lain bukan bukti kegagalan Anda, dan kekayaan tetangga bukan alasan untuk menghancurkan rumahnya. Politik yang dewasa semestinya tidak bertanya bagaimana membuat semua orang sama tinggi, melainkan bertanya bagaimana memastikan bahwa siapa pun, dari mana pun asalnya, memiliki kesempatan untuk naik. Sebab masyarakat akan selalu memiliki perbedaan.
Yang membedakan masyarakat yang produktif dari masyarakat yang saling menghancurkan bukan ada atau tidaknya perbedaan itu, melainkan bagaimana kita bereaksi terhadapnya. Dan mungkin di situlah analisis Schoeck terasa begitu mengganggu sekaligus relevan. Ia mengingatkan kita bahwa musuh kebebasan tidak selalu datang dalam bentuk negara yang represif atau ideologi yang ekstrem.
Kadang-kadang ia muncul dalam bentuk yang jauh lebih biasa: ketidaksenangan melihat tetangga berhasil, kegembiraan ketika orang lain jatuh, dan keyakinan bahwa dunia akan menjadi lebih adil jika orang yang berada sedikit di atas kita dipaksa turun. Ketika perasaan itu berhasil diubah menjadi program politik, iri hati berhenti menjadi kelemahan pribadi. Ia berubah menjadi kekuatan sosial.
Ketika sebuah masyarakat mulai membangun politiknya di atas kekuatan itu, yang dihancurkan pada akhirnya bukan hanya orang-orang yang menjadi sasaran, tetapi juga keberanian seluruh masyarakat untuk mencoba menjadi lebih baik.
Editor
