Selamat Datang di Era Diasimokrasi

Oleh : T.H. Hari Sucahyo (Pegiat di Cross-Disciplinary Discussion Group “Sapientiae”)

Kita sering diajarkan bahwa sejarah bergerak seperti pendulum. Kadang manusia hidup di bawah tangan besi seorang raja, kadang di bawah kekuasaan militer, kadang pula di bawah janji-janji demokrasi yang terdengar mulia. Dari zaman monarki absolut hingga republik modern, manusia selalu percaya bahwa setiap zaman memiliki wajah kekuasaan yang berbeda. Namun jika diperhatikan lebih jauh, ada sesuatu yang sedang berubah secara diam-diam di depan mata kita.

Kita mungkin telah melewati fase-fase otokrasi lama, tetapi belum benar-benar tiba pada demokrasi yang dibayangkan para filsuf. Dunia hari ini sedang memasuki bentuk kekuasaan baru yang lebih samar, lebih cair, dan lebih sulit dikenali. Sebuah keadaan yang dapat disebut sebagai diasimokrasi.

Ia bukan sekadar sistem politik formal seperti demokrasi, monarki, atau oligarki. Ia lebih menyerupai suasana zaman, cara kekuasaan bekerja tanpa harus selalu menunjukkan wajahnya secara terang-terangan. Dalam otokrasi klasik, kita tahu siapa penguasanya. Ada sosok tunggal yang berdiri di atas negara, mengendalikan hukum, tentara, dan informasi. Rakyat tahu siapa yang harus ditakuti dan siapa yang harus dilawan.

Tetapi dalam dunia sekarang, kekuasaan tidak lagi terkonsentrasi pada satu figur. Ia tersebar ke mana-mana: di layar ponsel, di algoritma media sosial, di perusahaan teknologi, di arus data, di pasar global, bahkan di opini publik yang dibentuk setiap detik. Kita hidup dalam dunia di mana keputusan manusia semakin dipengaruhi oleh sistem yang tidak terlihat.

Apa yang kita baca, siapa yang kita dukung, barang apa yang kita beli, hingga emosi apa yang kita rasakan sering kali diarahkan oleh mesin-mesin digital yang bekerja tanpa henti. Kita mengira sedang memilih secara bebas, padahal pilihan-pilihan itu telah disusun sebelumnya oleh pola-pola yang memahami kita lebih baik daripada diri kita sendiri. Dalam situasi seperti ini, kekuasaan tidak lagi datang dalam bentuk larangan keras, melainkan dalam bentuk pengaruh yang halus.

Jika dulu rezim otokrasi mengontrol masyarakat dengan rasa takut, diasimokrasi mengontrol masyarakat dengan kenyamanan. Kita tidak dipaksa diam oleh ancaman penjara, melainkan dibuat sibuk oleh banjir hiburan. Kita tidak dibungkam secara langsung, tetapi perhatian kita dipecah menjadi ribuan potongan kecil yang membuat kita sulit fokus terhadap persoalan besar. Dunia digital memberikan ilusi kebebasan yang sangat luas, padahal pada saat yang sama ia menciptakan ruang pengawasan paling besar dalam sejarah manusia.

Paradoks inilah yang menjadi ciri utama zaman kita. Kita merasa semakin bebas berbicara, tetapi semakin mudah dipetakan. Kita merasa memiliki banyak pilihan, tetapi pilihan-pilihan itu sering kali berasal dari sumber yang sama. Kita merasa hidup dalam demokrasi modern, tetapi banyak keputusan penting dunia justru ditentukan oleh kekuatan ekonomi global dan perusahaan teknologi yang tidak pernah dipilih rakyat melalui pemilu.

Dalam diasimokrasi, pengaruh lebih penting daripada kekuasaan formal. Seorang influencer dengan jutaan pengikut bisa memengaruhi opini publik lebih cepat daripada pidato seorang pejabat negara. Sebuah perusahaan digital dapat mengubah perilaku masyarakat lintas negara hanya dengan mengubah algoritma. Informasi bergerak begitu cepat hingga kebenaran sering kalah oleh kecepatan emosi. Orang tidak lagi percaya karena sesuatu itu benar, melainkan karena sesuatu itu viral.

Di titik ini, demokrasi mengalami perubahan bentuk. Dahulu demokrasi dibayangkan sebagai ruang rasional di mana warga berdiskusi dan menentukan masa depan bersama. Kini ruang publik berubah menjadi arena pertarungan perhatian. Yang paling keras, paling kontroversial, atau paling menghibur sering kali lebih didengar daripada yang paling masuk akal. Akibatnya, politik tidak lagi berbasis gagasan, tetapi berbasis citra. Kepemimpinan tidak lagi dibangun melalui kedalaman visi, melainkan kemampuan menguasai persepsi.

Kita juga menyaksikan bagaimana batas antara negara, pasar, dan teknologi semakin kabur. Perusahaan teknologi kini memiliki data miliaran manusia, sesuatu yang bahkan tidak dimiliki banyak negara pada masa lalu. Mereka mengetahui kebiasaan tidur kita, lokasi kita, selera kita, bahkan kecenderungan psikologis kita. Dalam konteks tertentu, data telah menjadi bentuk kekuasaan baru yang lebih kuat daripada senjata. Negara-negara masih memiliki tentara, tetapi perusahaan digital memiliki perilaku manusia.

Inilah mengapa diasimokrasi terasa begitu berbeda dari rezim-rezim sebelumnya. Ia tidak selalu membutuhkan penindasan terbuka. Sistem bekerja justru ketika manusia merasa nyaman di dalamnya. Orang dengan sukarela menyerahkan privasi demi kemudahan. Mereka rela memberikan data pribadi demi akses gratis terhadap aplikasi. Mereka merasa menjadi individu yang merdeka, padahal perlahan-lahan hidup mereka dibentuk oleh logika pasar digital.

Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang bangun tidur dan langsung memeriksa telepon genggam sebelum berbicara dengan keluarga. Nilai seseorang sering kali diukur dari jumlah pengikut atau interaksi di media sosial. Emosi kolektif dapat berubah hanya karena satu video berdurasi beberapa detik. Dunia bergerak semakin cepat, tetapi manusia justru semakin mudah lelah secara mental. Kita memiliki akses informasi tanpa batas, namun sering kehilangan kemampuan untuk merenung secara mendalam.

Dalam suasana seperti itu, manusia modern menghadapi ancaman baru: kehilangan kesadaran atas dirinya sendiri. Diasimokrasi bekerja bukan dengan merampas kebebasan secara kasar, melainkan dengan membuat manusia terus-menerus terdistraksi. Ketika perhatian menjadi komoditas, maka manusia perlahan kehilangan ruang sunyi untuk berpikir kritis. Padahal kemampuan berpikir kritis adalah fondasi utama agar masyarakat tidak mudah dikendalikan.

Yang menarik, banyak orang masih percaya bahwa ancaman terbesar terhadap kebebasan hanyalah diktator klasik. Padahal ancaman masa kini jauh lebih kompleks. Ia hadir melalui sistem ekonomi yang membuat manusia terus bekerja tanpa pernah merasa cukup. Ia hadir melalui budaya digital yang mendorong manusia membandingkan dirinya setiap saat. Ia hadir melalui banjir informasi yang membuat kebenaran sulit dibedakan dari manipulasi.

Di sisi lain, diasimokrasi juga menciptakan ilusi partisipasi. Setiap orang merasa terlibat karena dapat berkomentar, membagikan pendapat,  atau membuat konten. Namun partisipasi semacam itu sering berhenti di permukaan. Banyak orang merasa telah berjuang hanya karena menulis opini di media sosial, padahal perubahan nyata membutuhkan tindakan kolektif yang lebih dalam daripada sekadar reaksi digital.

Kita sedang hidup di zaman ketika simbol sering menggantikan substansi. Solidaritas dapat berubah menjadi tren sesaat. Kepedulian dapat dipasarkan sebagai identitas. Bahkan kemarahan pun kadang menjadi komoditas yang menguntungkan platform digital karena mampu meningkatkan interaksi pengguna. Dalam kondisi seperti ini, emosi manusia menjadi sumber daya ekonomi.

Namun menyadari keberadaan diasimokrasi bukan berarti kita harus pesimis terhadap masa depan. Justru kesadaran itulah langkah pertama untuk memahami arah zaman. Setiap bentuk kekuasaan selalu melahirkan kemungkinan perlawanan. Jika dahulu manusia melawan otokrasi dengan revolusi politik, maka melawan diasimokrasi membutuhkan revolusi kesadaran.

Kita perlu belajar kembali menjadi manusia yang utuh di tengah dunia yang semakin terfragmentasi. Kemampuan untuk membaca secara mendalam, berdialog secara tenang, dan berpikir tanpa tergesa-gesa menjadi semakin penting. Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan pekerja yang patuh terhadap sistem, tetapi juga manusia yang mampu mempertanyakan sistem itu sendiri.

Selain itu, masyarakat perlu memahami bahwa teknologi bukanlah sesuatu yang netral sepenuhnya. Teknologi selalu membawa nilai dan kepentingan tertentu. Karena itu, penggunaan teknologi harus disertai kesadaran etis. Dunia tidak bisa hanya diserahkan kepada logika pasar dan algoritma. Manusia harus tetap menjadi pusat dari peradaban, bukan sekadar data yang diperjualbelikan.

Diasimokrasi juga mengajarkan bahwa demokrasi formal saja tidak cukup. Pemilu, partai politik, dan kebebasan berbicara tetap penting, tetapi semuanya bisa kehilangan makna jika masyarakat tidak memiliki kemandirian berpikir. Demokrasi yang sehat membutuhkan warga yang tidak mudah dimanipulasi oleh ketakutan, kebencian, atau sensasi sesaat.

Mungkin inilah tantangan terbesar generasi kita: mempertahankan kemanusiaan di tengah sistem yang semakin mekanis. Kita hidup di dunia yang mampu menghubungkan miliaran orang dalam hitungan detik, tetapi sekaligus membuat banyak manusia merasa kesepian. Kita memiliki teknologi paling canggih sepanjang sejarah, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan yang cukup untuk menggunakannya.

Diasimokrasi bukan sekadar istilah untuk menggambarkan sistem kekuasaan baru. Ia adalah cermin tentang bagaimana manusia modern menjalani hidupnya. Dunia tidak lagi bergerak dengan garis yang sederhana antara penguasa dan rakyat. Kekuasaan kini tersebar dalam jaringan yang kompleks, memengaruhi cara kita berpikir, merasa, dan bertindak.

Kita memang telah melewati rezim-rezim otokrasi sebelumnya, tetapi itu tidak berarti perjuangan manusia untuk meraih kebebasan telah selesai. Bentuk penindasan mungkin berubah, cara kontrol mungkin menjadi lebih halus, tetapi pertanyaan dasarnya tetap sama: apakah manusia masih memiliki kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak akan ditentukan hanya oleh negara atau teknologi, melainkan oleh kesadaran manusia sebagai individu dan masyarakat. Jika kita terus membiarkan perhatian, pikiran, dan emosi kita dikuasai oleh sistem yang tidak kita pahami, maka diasimokrasi akan menjadi bentuk kekuasaan paling sempurna: kekuasaan yang tidak perlu memaksa karena manusia dengan sukarela tunduk di dalamnya.

Tetapi jika manusia mampu menjaga kesadaran kritis, membangun solidaritas yang nyata, dan menggunakan teknologi tanpa kehilangan nilai kemanusiaannya, maka era baru ini tidak harus menjadi akhir dari kebebasan. Ia justru bisa menjadi titik balik untuk menciptakan peradaban yang lebih sadar, lebih adil, dan lebih manusiawi. Sebab pada akhirnya, masa depan dunia tidak hanya ditentukan oleh sistem yang menguasai manusia, tetapi juga oleh keberanian manusia untuk memahami dan melampaui sistem tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *