Oleh: Hafit Ninis Alfiga, Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Slamet Riyadi Surakarta Dalam politik, perpindahan posisi seseorang terkadang lebih menarik daripada perubahan sikap yang diucapkannya. Rocky Gerung, yang selama ini dikenal lantang mengkritik pemerintah, kini berada di dalam lingkar kekuasaan setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota…
Lihat lebih banyakOleh: Nur Alif Wahyu, Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Slamet Riyadi Surakarta Jika berbicara mengenai identitas nasional, yang ada dipikiran kita sering kali langsung tertuju pada upacara bendera, baju adat saat perayaan kemerdekaan, atau hafalan butir-butir Pancasila di bangku sekolah. Seolah-olah menjadi Indonesia cukup dibuktikan dengan mengenakan…
Lihat lebih banyakOleh: Keysha Alfadha Aurora, Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Slamet Riyadi Surakarta Demokrasi sering diartikan hanya soal Pemilu, pergantian kekuasaan, dan kebebasan memilih pemimpin. Namun, sejatinya demokrasi jauh lebih kompleks secara implementasi. Demokrasi diuji ketika rakyat menyampaikan kritik, ketika kebijakan pemerintah dipersoalkan, dan ketika kekuasaan harus bersedia…
Lihat lebih banyakOleh: Destiya Pury Avita Sari, Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Slamet Riyadi Surakarta Terlalu sempit jika kita menganggap bendera hanya kain yang dijahit, diberi warna, lalu dikibarkan, padahal dibaliknya menyimpan sebuah simbol yang membawa identitas, ingatan, kebanggaan, bahkan luka sejarah. Menjadi ironi sebenarnya ketika bendera yang identik…
Lihat lebih banyakOleh: Anisa Wahyu Putriana, Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Slamet Riyadi Surakarta “Gampang, enek wong njero”, kalimat sederhana dalam bahasa Jawa yang mungkin terdengar seperti gurauan. Namun, ketika yang dipertaruhkan adalah jabatan dan sumber daya publik, “wong njero” atau “orang dalam” dapat menjadi awal dari persoalan yang…
Lihat lebih banyakOleh: Fathia Salsabila Arfian, Mahasiswi Fakultas Teknologi Informasi dan Sains Data, Universitas Sebelas Maret Kedaulatan merupakan salah satu fondasi utama keberadaan sebuah negara. Secara sederhana, negara berdaulat berarti negara memiliki kekuasaan tertinggi untuk mengatur pemerintahan, wilayah, dan kehidupan masyarakatnya tanpa berada di bawah kekuasaan negara lain. Namun, dalam negara demokrasi,…
Lihat lebih banyakOleh : T.H. Hari Sucahyo (Pegiat di Cross-Disciplinary Discussion Group “Sapientiae”) Kita sering diajarkan bahwa sejarah bergerak seperti pendulum. Kadang manusia hidup di bawah tangan besi seorang raja, kadang di bawah kekuasaan militer, kadang pula di bawah janji-janji demokrasi yang terdengar mulia. Dari zaman monarki absolut hingga republik modern, manusia…
Lihat lebih banyakOleh : T.H. Hari Sucahyo (Pegiat di Cross-Disciplinary Discussion Group “Sapientiae”) Ada kalanya sebuah bangsa baru menyadari bahwa sesuatu telah hilang setelah kerusakan itu tampak di permukaan. Ketika berita tentang kekerasan aparat, korupsi pejabat, dan kebijakan yang gagal mulai memenuhi ruang publik, orang-orang tiba-tiba berkata bahwa demokrasi sedang sekarat. Ada…
Lihat lebih banyakPada masa Kolonial, Belanda telah membentuk sebuah sistem pangreh praja, yakni sistem birokrasi kolonial Belanda yang menempatkan pejabat pribumi sebagai pelaksana pemerintah di daerah. Sistem tersebut mempunyai struktur hirearkis yang melibatkan pejabat Eropa, seperti residen dan asisten residen dan pejabat pribumi seperti bupati dan wedana. Alih-alih memberikan pribumi kesempatan atau…
Lihat lebih banyakOleh: Arman Ramadhan Pekerjanya masih jauh mendapatkan upah dan jam kerja yang layak. Bahkan, sebagian besarnya mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran. Anak mudanya kesulitan untuk mengakses pendidikan tinggi serta terancam menjadi pengangguran. Janji soal 19 juta lapangan kerja tak lebih dari sekadar omong kosong belaka dari mulut Sang Bocah…
Lihat lebih banyak