Oleh: Nadia Aurelia Rahmadany, Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi Surakarta Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selalu dinarasikan secara turun-temurun karena musim kemarau, cuaca panas, titik api, asap, lalu upaya pemadaman. Pola tersebut membuat karhutla seolah-olah menjadi konsekuensi alamiah dari musim kering. Padahal di belakangnya terdapat kondisi ekologis, aktivitas manusia,…
Lihat lebih banyak